9 PRINSIP MEMAHAMI CIPTA UTTAMOPADESA

9 prinsip memahami cipta uttamopadesa
Pendahuluan.
Cipta merupakan salah satu unsur penting dalam kehidupan janma manusa. Melalui cipta, manusia dapat mengamati, memahami, mempertimbangkan, dan menentukan arah tindakannya.

Namun, dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa, cipta tidak dipahami sekadar sebagai pikiran atau aktivitas intelektual. Cipta berkaitan dengan kemampuan kesadaran dalam menerima, mengolah, memahami, dan mengarahkan pengalaman kehidupan.

Kawruh Uttamopadesa yang disusun oleh Dhimas Purnomo menempatkan cipta bersama rasa dan karsa sebagai bagian penting dari kehidupan manusia. Ketiganya harus ditata secara selaras. Cipta diarahkan menuju Weninging Cipta, rasa menuju Tulusing Rasa, dan karsa menuju Utamaning Karsa.

Cipta yang belum tertata dapat dipenuhi prasangka, keinginan, ingatan, ketakutan, kepentingan, dan berbagai pengaruh pengalaman. Sebaliknya, cipta yang semakin wening dapat menjadi sarana untuk melihat kehidupan dengan lebih jernih.

Untuk memahami cipta secara lebih mendalam, Kawruh Uttamopadesa telah merumuskan sembilan prinsip pemahaman cipta, sebagai berikut :

1. Cipta Bukan Sekadar Pikiran.
Prinsip pertama adalah memahami bahwa cipta tidak identik dengan pikiran dalam pengertian sempit.

Pikiran biasanya berkaitan dengan proses mengingat, membandingkan, menghitung, menganalisis, dan menyusun gagasan. Cipta memiliki cakupan yang lebih mendalam karena berkaitan dengan bagaimana manusia menyadari dan memahami sesuatu.

Karena itu, cipta tidak cukup diukur dari banyaknya pengetahuan yang dimiliki. Seseorang dapat memiliki banyak informasi tetapi belum tentu memiliki cipta yang wening.

Dalam Kawruh Uttamopadesa, nilai cipta terletak pada kemampuannya memperoleh pemahaman yang semakin jernih terhadap kehidupan.

2. Cipta Berasal dari Kesadaran.
Cipta tidak berdiri sendiri. Cipta berkaitan dengan kesadaran (Cetana) yang ada dalam kehidupan manusia.

Kesadaran memungkinkan manusia mengetahui bahwa dirinya sedang melihat, mendengar, mengingat, mempertimbangkan, atau mengambil keputusan. Dari kesadaran tersebut, cipta dapat berkembang menjadi pemahaman.

Dengan demikian, memahami cipta berarti juga memahami bagaimana kesadaran bekerja dalam kehidupan.

Cipta yang tidak disadari mudah dikuasai oleh kebiasaan dan dorongan sesaat. Sebaliknya, cipta yang disertai kesadaran dapat mengamati proses tersebut sebelum manusia bertindak.

3. Cipta Perlu Wening.
Tujuan utama penataan cipta adalah Weninging Cipta. Wening bukan berarti tidak memiliki pikiran. Wening juga bukan keadaan kosong tanpa gagasan.

Wening berarti cipta tidak dikaburkan oleh berbagai dorongan yang membuat manusia sulit melihat sesuatu sebagaimana adanya.

Cipta yang wening mampu membedakan antara kenyataan dan prasangka, antara kebutuhan dan keinginan, antara pemahaman dan dugaan.

Karena itu, weninging cipta bukan hasil dari memaksa pikiran menjadi diam, melainkan proses membersihkan dan menata cipta melalui kesadaran.

4. Cipta Harus Mampu Membedakan.
Kemampuan membedakan merupakan bagian penting dari cipta.

Manusia setiap hari berhadapan dengan berbagai hal: benar dan keliru, penting dan tidak penting, kebutuhan dan keinginan, fakta dan tafsir, manfaat dan mudarat.

Tanpa kemampuan membedakan, cipta mudah menerima segala sesuatu sebagai kebenaran.

Dalam laku Uttamopadesa, cipta perlu dilatih untuk bertanya sebelum menerima sesuatu.

Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang hanya merupakan dugaan? Apa yang berasal dari pengalaman pribadi? Apa yang benar-benar telah dipahami?

Kemampuan membedakan bukan berarti selalu menolak sesuatu, melainkan memberikan tempat yang tepat bagi setiap hal.

5. Cipta Tidak Boleh Dikuasai oleh Rasa Duniawi.
Cipta dan rasa saling berkaitan, tetapi keduanya tidak boleh saling menguasai secara membutakan.

Rasa duniawi dapat memberikan kesan menyenangkan, tidak menyenangkan, nyaman, sakit, suka, atau tidak suka. Apabila cipta sepenuhnya mengikuti rasa tersebut, penilaian manusia dapat berubah menjadi subjektif.

Misalnya, sesuatu dianggap benar hanya karena disukai, atau dianggap salah hanya karena tidak menyenangkan.

Karena itu, cipta perlu tetap memiliki kejernihan. Rasa perlu dihormati sebagai bagian dari kehidupan, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya dasar untuk menentukan kebenaran.

Di sinilah pentingnya Weninging Cipta dan Tulusing Rasa berjalan bersama.

6. Cipta Harus Mengarah kepada Kawruh Sejati.
Cipta bukan tujuan akhir. Dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa, cipta diarahkan kepada Kawruh Sejati.

Kawruh Sejati bukan sekadar kumpulan informasi atau konsep yang dibuat oleh pikiran. Kawruh Sejati dipahami sebagai pepadhang yang menerangi pemahaman manusia terhadap kehidupan.

Karena itu, cipta berfungsi menerima dan memahami pepadhang tersebut dalam kehidupan manusia.

Perlu dibedakan antara Kawruh Sejati dan Kawruh Kasunyatan. Kawruh Sejati merupakan pepadhang hakiki, sedangkan Kawruh Kasunyatan merupakan pemahaman manusia terhadap kasunyatan berdasarkan kemampuan kesadarannya.

Cipta menjadi ruang penting bagi manusia untuk mengolah pemahaman tersebut agar tidak berhenti sebagai pengetahuan teoritis.

7. Cipta Harus Diuji dalam Laku Hidup.
Cipta yang benar tidak cukup hanya menghasilkan pemikiran yang tampak indah.
Pemahaman perlu diwujudkan dalam kehidupan.

Karena itu, salah satu ukuran penting aspek cipta adalah bagaimana pemahaman tersebut mempengaruhi laku kehidupan.

Apabila seseorang memahami pentingnya kesabaran tetapi selalu bertindak tergesa-gesa, pemahamannya belum sepenuhnya menjadi bagian dari laku.

Apabila seseorang memahami pentingnya ketulusan tetapi tindakannya masih didorong kepentingan tersembunyi, maka cipta masih perlu ditata.

Kawruh Uttamopadesa menempatkan kehidupan nyata sebagai ruang untuk menguji pemahaman. Cipta yang wening akan memengaruhi rasa dan karsa, kemudian tampak dalam perilaku.

8. Cipta Harus Selaras dengan Rasa dan Karsa.
Cipta tidak dapat dipisahkan dari dua unsur penting lainnya: rasa dan karsa.

Cipta memberikan pemahaman. Rasa memberikan kedalaman penghayatan. Karsa memberikan arah kehendak dan tindakan.

Apabila cipta benar tetapi rasa tidak tulus, kehidupan dapat menjadi kering. Apabila rasa tulus tetapi cipta tidak wening, manusia dapat salah memahami keadaan. Apabila cipta dan rasa telah baik tetapi karsa tidak utama, pemahaman tersebut tidak diwujudkan dalam tindakan.

Karena itu, Kawruh Uttamopadesa mengarahkan manusia kepada tiga keselarasan: Weninging Cipta, Tulusing Rasa, dan Utamaning Karsa.

Ketiganya bukan tiga tujuan yang berdiri sendiri, melainkan satu kesatuan dalam laku kehidupan.

9. Cipta Harus Membawa kepada Purnata Jiwana.
Prinsip terakhir adalah bahwa cipta pada akhirnya harus membawa manusia menuju kehidupan yang semakin utuh.

Cipta yang semakin wening tidak membuat manusia semakin jauh dari kehidupan. Sebaliknya, kejernihan cipta seharusnya membuat manusia semakin mampu menjalani kehidupan dengan sadar, tulus, dan utama.

Inilah hubungan antara cipta dengan Purnata Jiwana Uttamopadesa. Purnata Jiwana bukan sekadar keadaan mengetahui banyak hal. Purnata Jiwana berkaitan dengan keselarasan kehidupan ketika cipta, rasa, dan karsa semakin tertata.

Cipta yang wening membantu manusia memahami apa yang harus dilakukan. Rasa yang tulus membantu manusia menjalani dengan ketulusan. Karsa yang utama membantu manusia mewujudkannya dalam tindakan.

Dengan demikian, cipta tidak berhenti pada pemikiran, tetapi menjadi bagian dari perjalanan manusia menuju kehidupan yang lebih utuh.

Cipta sebagai Jalan Menuju Weninging Cipta.
Sembilan prinsip tersebut di atas menunjukkan bahwa memahami cipta bukan sekadar mempelajari cara berpikir.

Cipta merupakan bagian dari kehidupan manusia yang perlu disadari, dipahami, ditata, dan diwujudkan dalam laku. Cipta perlu dibebaskan dari kekacauan batin, prasangka, keterikatan, dan penilaian yang terburu-buru agar mampu melihat kehidupan dengan lebih jernih.

Dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa, Weninging Cipta bukan keadaan pasif. Weninging cipta merupakan hasil dari proses kesadaran yang terus-menerus mengamati, memahami, membedakan, dan menata diri.

Oleh karena itu, memahami cipta pada akhirnya adalah memahami bagaimana manusia menggunakan kesadarannya untuk menjalani kehidupan.

Cipta yang wening akan menuntun rasa menuju ketulusan. Rasa yang tulus akan mendukung karsa menuju keutamaan. Ketiganya kemudian diwujudkan dalam laku kehidupan.

Pada akhirnya, Weninging Cipta bukan hanya keadaan ketika pikiran menjadi tenang, tetapi keadaan ketika cipta mampu memahami kehidupan dengan lebih jernih dan mengarahkan manusia kepada laku yang selaras dengan Tulusing Rasa dan Utamaning Karsa.

Itulah salah satu dasar penting dalam memahami cipta menurut Kawruh Uttamopadesa yang disusun oleh Dhimas Purnomo.

FAQ 9 Prinsip Memahami Cipta Uttamopadesa.

1. Apa yang dimaksud dengan cipta dalam Kawruh Uttamopadesa?
Cipta adalah bagian dari kehidupan manusia yang berkaitan dengan kemampuan kesadaran untuk memahami, mengamati, mempertimbangkan, dan mengarahkan kehidupan. Cipta tidak hanya dipahami sebagai pikiran.

2. Apa tujuan utama penataan cipta?
Tujuan utamanya adalah mencapai Weninging Cipta, yaitu keadaan ketika cipta semakin jernih sehingga mampu membedakan kenyataan, prasangka, keinginan, dan berbagai pengaruh yang mengaburkan pemahaman.

3. Apa hubungan cipta dengan Kawruh Sejati?
Cipta diarahkan untuk menerima dan memahami pepadhang Kawruh Sejati. Kawruh Sejati bukan sekadar konsep atau kumpulan informasi, sedangkan cipta menjadi bagian dari kemampuan manusia untuk memahami pepadhang tersebut dalam kehidupan.

4. Mengapa cipta harus selaras dengan rasa dan karsa?
Karena cipta, rasa, dan karsa merupakan kesatuan dalam laku kehidupan. Weninging Cipta memberikan kejernihan, Tulusing Rasa memberikan ketulusan, sedangkan Utamaning Karsa mengarahkan kehendak kepada tindakan yang utama.

5. Bagaimana cara melatih cipta agar semakin wening?
Cipta dapat dilatih dengan meningkatkan kesadaran, mengamati proses batin, tidak terburu-buru mengambil kesimpulan, membedakan kenyataan dari prasangka, serta menguji pemahaman melalui laku kehidupan sehari-hari.

6. Siapa yang merumuskan 9 Prinsip Memahami Cipta Uttamopadesa?
Pembahasan sembilan prinsip memahami cipta merupakan bagian dari pengembangan Kawruh Uttamopadesa yang disusun oleh Dhimas Purnomo.

Komentar